Di tengah derasnya arus modernisasi dan kemudahan teknologi, sebuah iklan layanan pesan antar makanan dengan jargon “Apa pun Pilihanmu Kami Antar” terdengar sangat menggoda. Kalimat sederhana itu menyentuh sisi paling praktis dari kehidupan keluarga masa kini: setiap orang bisa memilih makanan sesuai selera, tanpa perlu menunggu masakan rumah atau berkompromi dengan menu yang sama.
Namun, di balik kemudahan tersebut, ada perubahan perlahan yang kerap luput dari perhatian. Perubahan itu tidak hanya soal pola makan, tetapi juga menyentuh kehangatan dan keakraban keluarga yang selama ini tumbuh dari dapur dan meja makan.
Dapur sebagai Jantung Keluarga
Sejak dahulu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah ruang paling hidup di dalam rumah. Di sanalah aroma masakan menyebar, percakapan kecil tercipta, dan rasa kebersamaan mulai dirajut. Seorang ibu—atau siapa pun yang memasak—tidak hanya menyiapkan makanan, tetapi juga menyalurkan perhatian dan kasih sayang melalui hidangan yang disajikan.
Lazimnya, sebuah keluarga menyajikan satu atau dua menu masakan di atas meja makan. Rawon, pecel, sayur bening, atau masakan sederhana lainnya bukan hanya pengisi perut, tetapi juga simbol usaha dan cinta. Dalam proses memasak itu, ada waktu, tenaga, dan niat baik yang dicurahkan.
Ketika masakan tersebut akhirnya tersaji, sejatinya yang dihadirkan bukan sekadar makanan, melainkan undangan untuk berkumpul.
Godaan Pilihan Tanpa Batas
Masalah mulai muncul ketika setiap anggota keluarga memiliki akses mudah pada layanan pesan antar. Anak yang rewel, misalnya, bisa saja menolak makanan rumahan dan memilih makanan cepat saji hanya dengan beberapa sentuhan di layar ponsel. Remaja mungkin lebih tergoda memesan minuman kekinian, sementara orang dewasa memilih menu lain yang dirasa lebih praktis.
Akibatnya, satu meja makan bisa dipenuhi hidangan yang berbeda-beda—bahkan lebih sering, meja makan justru kosong. Makanan yang telah disiapkan oleh ibu rumah tangga atau asisten rumah tangga menjadi mubazir, menyisakan rasa sayang dan sisa makanan.
Memang, setiap anggota keluarga mendapatkan apa yang mereka inginkan. Namun pertanyaannya: apa yang dikorbankan dari kebebasan memilih itu?
Makan Bersama yang Mulai Terpecah
Ketika setiap orang makan sesuai seleranya, waktu makan bersama perlahan menghilang. Ada yang makan di meja makan, ada yang di ruang santai sambil menonton drama Korea, ada yang di kamar tidur ditemani film streaming, atau di ruang tamu sambil bermain gim.
Tanpa disadari, makan bukan lagi kegiatan bersama, melainkan aktivitas individual. Interaksi yang biasanya terjadi di meja makan—bertanya kabar, berbagi cerita sekolah, pekerjaan, atau sekadar bercanda—menghilang begitu saja.
Padahal, meja makan selama ini berfungsi sebagai ruang dialog paling alami dalam keluarga.
Meja Makan sebagai Ruang Kebersamaan
Sejatinya, makan di meja makan dilakukan bersama. Ayah, ibu, dan anak-anak duduk dalam satu lingkaran yang sama. Bila kakek dan nenek masih hidup, mereka pun turut hadir, menambah hangat suasana. Tidak ada hierarki, tidak ada jarak. Semua setara sebagai anggota keluarga.
Di meja makan, anak belajar mendengar dan didengar. Orang tua mengetahui keseharian anak tanpa harus menginterogasi. Percakapan kecil yang tampak sepele justru membangun kedekatan emosional yang kuat.
Banyak nilai keluarga diturunkan di meja makan: sopan santun, rasa syukur, empati, bahkan cara menyelesaikan perbedaan pendapat. Meja makan adalah sekolah pertama tentang kehidupan sosial.
Keutuhan Keluarga yang Perlahan Ternoda
Ketika kebiasaan makan bersama ditinggalkan, keutuhan keluarga pelan-pelan ternoda. Bukan dalam arti konflik besar, melainkan jarak emosional yang semakin melebar. Anggota keluarga mungkin tinggal serumah, tetapi hidup dalam dunia masing-masing.
Kehangatan yang dulu hadir secara alami kini harus dicari dengan sengaja—dan sering kali terlambat. Anak-anak tumbuh dengan kenangan makan sendiri, bukan dengan cerita di meja makan. Orang tua kehilangan momen-momen kecil yang seharusnya menjadi pengikat keluarga.
Bukan Menolak Kemajuan, Tapi Menjaga Nilai
Penting untuk ditegaskan: persoalannya bukan pada layanan pesan antar makanan itu sendiri. Teknologi adalah alat, dan alat selalu netral. Yang perlu dijaga adalah cara kita menggunakannya.
Sesekali memesan makanan bukanlah dosa. Dalam kondisi tertentu—lelah, sibuk, atau keadaan darurat—layanan pesan antar sangat membantu. Namun ketika ia menjadi kebiasaan yang menggantikan dapur dan meja makan, di situlah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apa yang sedang kita korbankan?
Menghidupkan Kembali Tradisi Makan Bersama
Mengembalikan kebiasaan makan bersama tidak harus rumit. Tidak perlu menu mewah atau meja besar. Yang terpenting adalah komitmen waktu dan kehadiran.
Satu waktu makan bersama dalam sehari—entah sarapan, makan siang, atau makan malam—sudah cukup untuk menjaga ikatan keluarga. Ponsel disingkirkan, televisi dimatikan, dan perhatian difokuskan pada satu sama lain.
Di situlah keakraban kembali tumbuh. Dari obrolan ringan, dari tawa kecil, dari keheningan yang nyaman.
Penutup: Dari Dapur, ke Meja Makan, ke Hati
Keakraban keluarga tidak lahir dari layar gawai atau aplikasi yang serba cepat. Ia tumbuh dari hal-hal sederhana: aroma masakan dari dapur, hidangan yang tersaji di meja makan, dan kebersamaan yang dirawat setiap hari.
Dapur dan meja makan bukan sekadar bagian rumah. Keduanya adalah fondasi emosional keluarga. Selama keduanya masih dihidupkan, kehangatan keluarga akan tetap terjaga—apa pun tantangan zaman yang datang.
Karena pada akhirnya, keluarga yang akrab bukanlah keluarga yang selalu memiliki pilihan paling banyak, melainkan keluarga yang mau duduk bersama dan berbagi waktu.
Baca Juga : ICT Soroti MBG Angka Besar dan Keadilan Ekonomi
Cek Juga Artikel Dari Platform : carimobilindonesia

