Kehangatan Musim Hujan di Makassar dan Pisang Peppe
Hujan yang turun sejak sore kerap menghadirkan suasana dingin dan sendu di Kota Makassar. Langit yang mendung, jalanan yang basah, serta angin laut yang berembus pelan menciptakan nuansa khas yang hanya bisa dirasakan di kota pesisir Sulawesi Selatan ini. Di balik suasana tersebut, ada satu jajanan tradisional yang justru terasa semakin nikmat disantap, yakni pisang peppe.
Bagi warga lokal, pisang peppe bukan sekadar camilan pengganjal perut. Jajanan ini telah menjadi bagian dari kebiasaan, terutama saat hujan turun atau malam mulai terasa dingin. Aroma pisang yang dibakar di atas bara api sering kali menjadi penanda bahwa sore hari di Makassar telah memasuki waktu yang tepat untuk menikmati jajanan hangat.
Apa Itu Pisang Peppe?
Pisang peppe adalah jajanan tradisional khas Makassar yang berbahan dasar pisang kepok setengah matang. Kata “peppe” dalam bahasa Makassar berarti “dipipihkan”. Nama tersebut merujuk pada proses pembuatan pisang yang dipipihkan setelah dibakar.
Pisang kepok dipilih karena teksturnya yang padat dan rasanya yang tidak terlalu manis saat mentah. Karakter ini membuat pisang kepok sangat cocok untuk dipanggang, dipipihkan, lalu dibakar kembali tanpa hancur. Hasil akhirnya adalah camilan sederhana dengan cita rasa khas yang sulit ditandingi.
Proses Tradisional yang Menjaga Keaslian Rasa
Keunikan pisang peppe terletak pada proses pembuatannya yang masih mempertahankan cara tradisional. Pisang kepok terlebih dahulu dibakar di atas bara api hingga kulitnya menghitam dan aromanya keluar. Setelah itu, pisang dikupas dan dipipihkan menggunakan alat sederhana, biasanya dari kayu atau besi.
Proses tidak berhenti di situ. Pisang yang sudah dipipihkan kemudian dibakar kembali hingga permukaannya kecokelatan. Tahap pemanggangan kedua inilah yang menghasilkan tekstur khas: renyah di bagian luar, namun tetap lembut dan hangat di bagian dalam. Aroma bakaran yang muncul semakin menggugah selera, terutama saat dinikmati di tengah cuaca hujan.
Saus Gula Merah dan Sentuhan Sambal Khas
Cita rasa pisang peppe semakin lengkap dengan siraman saus gula merah cair. Gula merah yang dilelehkan memberikan rasa manis legit dengan aroma khas yang berpadu sempurna dengan pisang bakar. Namun, keistimewaan pisang peppe Makassar tidak berhenti pada rasa manis saja.
Banyak penjual menambahkan sambal khas berbahan cabai dan gula aren sebagai pelengkap. Perpaduan manis dan pedas ini menciptakan sensasi rasa yang unik dan berani. Rasa pedas yang menghangatkan tubuh sangat cocok dinikmati saat hujan, menjadikan pisang peppe bukan hanya camilan, tetapi juga pengusir dingin.
Mudah Ditemui di Sore dan Malam Hari
Di Makassar, pisang peppe sangat mudah ditemukan, terutama pada sore hingga malam hari. Pedagang kaki lima menjajakan jajanan ini di pinggir jalan, dekat pusat keramaian, kawasan pantai, hingga area perumahan. Asap tipis dari bara api dan suara pisang yang dipipihkan sering kali menarik perhatian orang yang melintas.
Tidak jarang pembeli rela berhenti sejenak, berteduh di bawah payung, sambil menunggu pisang peppe selesai dibakar. Proses menunggu ini justru menjadi bagian dari pengalaman menikmati jajanan tradisional yang sederhana namun penuh kehangatan.
Lebih dari Sekadar Camilan
Pisang peppe bukan hanya soal rasa. Jajanan ini menyimpan nilai budaya dan nostalgia bagi banyak warga Makassar. Bagi sebagian orang, pisang peppe mengingatkan pada masa kecil, saat orang tua mengajak membeli camilan hangat di sore hari atau ketika hujan turun deras.
Kehadiran pisang peppe juga mencerminkan kearifan lokal dalam mengolah bahan sederhana menjadi makanan yang bernilai tinggi. Tanpa bahan mahal atau teknik rumit, pisang kepok diolah menjadi camilan yang digemari lintas generasi.
Tetap Bertahan di Tengah Tren Kuliner Modern
Di tengah maraknya makanan modern dan jajanan kekinian, pisang peppe tetap bertahan dengan identitas aslinya. Jajanan ini tidak banyak berubah mengikuti tren, namun justru itulah yang membuatnya istimewa. Kesederhanaan rasa dan proses tradisional menjadi daya tarik utama.
Media sosial juga turut berperan dalam menjaga eksistensi pisang peppe. Banyak konten yang menampilkan proses pembakaran, saus gula merah yang meleleh, hingga ekspresi puas para penikmatnya. Hal ini membuat pisang peppe tetap dikenal oleh generasi muda dan wisatawan.
Alasan Pisang Peppe Selalu Dicari Saat Hujan
Ada alasan kuat mengapa pisang peppe selalu dicari saat musim hujan. Teksturnya yang hangat, rasa manis-pedasnya yang khas, serta aroma bakaran yang menggoda menjadikannya camilan ideal di cuaca dingin. Selain itu, harganya yang terjangkau membuat pisang peppe mudah dinikmati oleh semua kalangan.
Lebih dari itu, pisang peppe menghadirkan rasa nyaman dan keakraban. Menikmatinya di tengah hujan seolah menjadi ritual kecil yang menenangkan, jauh dari hiruk-pikuk aktivitas sehari-hari.
Penutup
Pisang peppe adalah bukti bahwa jajanan tradisional tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Di Makassar, camilan ini bukan hanya penghangat tubuh saat hujan, tetapi juga simbol kehangatan, kebersamaan, dan tradisi yang terus hidup.
Jika suatu hari Anda berada di Makassar dan hujan mulai turun, sempatkan diri mencari pisang peppe. Di balik kesederhanaannya, jajanan ini menawarkan rasa dan pengalaman yang membuat siapa pun ingin kembali menikmatinya.
Baca Juga : Toge Goreng Bogor, Kuliner Legendaris yang Selalu Dicari Wisatawan
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : beritagram

