dapurkuliner.com Di wilayah pegunungan Jepang, perubahan alam dan dinamika manusia menghadirkan cerita yang tidak biasa. Salah satunya datang dari kawasan Chichibu, Prefektur Saitama, tempat sebuah restoran sederhana justru menjadi sorotan karena menyajikan hidangan yang tergolong ekstrem bagi banyak orang: daging beruang.
Di balik etalase restoran tersebut, terpajang taksidermi beruang yang menjadi simbol hubungan panjang antara manusia dan alam liar di wilayah pegunungan Jepang. Bagi sebagian orang, pemandangan itu terasa mengundang rasa ingin tahu. Bagi yang lain, terasa mengusik. Namun bagi masyarakat lokal, keberadaan daging beruang di meja makan bukanlah hal baru.
Lonjakan Serangan dan Dampaknya
Dalam beberapa waktu terakhir, Jepang menghadapi peningkatan konflik antara manusia dan beruang liar. Habitat yang menyempit, perubahan iklim, serta pergeseran pola hidup satwa membuat beruang semakin sering turun mendekati permukiman. Situasi ini memicu kekhawatiran serius karena serangan beruang tercatat semakin sering dan mematikan.
Sebagai bagian dari upaya pengendalian populasi dan perlindungan warga, sejumlah beruang yang dianggap berbahaya terpaksa dibasmi oleh otoritas setempat. Dari sinilah sumber daging beruang yang kemudian dimanfaatkan secara terbatas dan legal oleh pelaku kuliner tradisional.
Koji Suzuki, Pemburu Sekaligus Koki
Di Chichibu, sosok Koji Suzuki dikenal sebagai pemburu sekaligus koki yang mengelola restoran penyaji daging hasil buruan pegunungan. Restorannya tidak hanya menyajikan daging beruang, tetapi juga daging rusa dan babi hutan—menu yang lazim di wilayah pegunungan Jepang.
Namun belakangan, daging beruang justru menjadi menu paling dicari. Lonjakan minat datang tidak hanya dari warga lokal, tetapi juga dari pengunjung luar daerah yang penasaran dengan kuliner khas pegunungan Jepang. Permintaan yang tinggi membuat restoran tersebut kerap kewalahan melayani pelanggan.
Cara Penyajian yang Tetap Tradisional
Daging beruang di restoran ini tidak disajikan sembarangan. Pengolahan dilakukan dengan metode tradisional untuk menjaga rasa dan keamanan konsumsi. Salah satu cara paling populer adalah memanggang daging di atas lempengan batu panas. Metode ini memungkinkan lemak meleleh perlahan, menghasilkan aroma khas yang kuat.
Selain dipanggang, daging beruang juga disajikan sebagai hidangan hot pot bersama sayuran lokal. Kuahnya sederhana, namun kaya rasa, menonjolkan karakter daging yang cenderung padat, beraroma liar, dan memiliki tekstur berbeda dari daging ternak biasa.
Rasa yang Tidak Biasa
Bagi mereka yang pernah mencicipinya, daging beruang digambarkan memiliki rasa yang kuat dan mendalam. Teksturnya lebih kenyal dibanding daging sapi, dengan aroma khas yang mencerminkan kehidupan liar di alam bebas. Karena karakter rasanya yang intens, daging ini tidak dikonsumsi dalam porsi besar dan lebih sering dinikmati sebagai pengalaman kuliner khusus.
Inilah yang membuat daging beruang tidak pernah menjadi menu harian. Ia hadir sebagai hidangan musiman atau simbol tradisi, dinikmati dengan penuh kesadaran dan penghormatan terhadap alam.
Tradisi Lama yang Kembali Muncul
Meski terdengar ekstrem bagi masyarakat perkotaan atau wisatawan asing, konsumsi daging beruang sebenarnya memiliki sejarah panjang di desa-desa pegunungan Jepang. Dalam tradisi lokal, hasil buruan dimanfaatkan secara menyeluruh sebagai bentuk penghargaan terhadap alam.
Daging beruang dahulu dikonsumsi dalam ritual tertentu atau saat musim dingin, ketika sumber pangan terbatas. Tradisi ini diwariskan turun-temurun, meski tidak lagi umum di era modern. Lonjakan konflik manusia dan satwa liar membuat praktik lama ini kembali muncul, kali ini dalam konteks yang lebih kompleks.
Antara Kuliner, Etika, dan Konservasi
Fenomena kuliner daging beruang memicu perdebatan. Di satu sisi, pemanfaatan daging dari beruang yang dibasmi dianggap lebih etis daripada membuangnya begitu saja. Di sisi lain, isu kesejahteraan satwa dan konservasi tetap menjadi perhatian.
Pemerintah Jepang mengatur ketat pemanfaatan daging satwa liar. Tidak semua restoran diperbolehkan menyajikannya, dan proses distribusi diawasi secara ketat. Hal ini dilakukan untuk mencegah eksploitasi dan memastikan bahwa konsumsi daging beruang tidak mendorong perburuan liar.
Daya Tarik Wisata Kuliner Pegunungan
Bagi wisatawan, pengalaman mencicipi daging beruang bukan sekadar soal rasa, tetapi juga cerita di baliknya. Restoran seperti milik Koji Suzuki menjadi destinasi unik yang menawarkan perspektif berbeda tentang hubungan manusia dengan alam.
Wilayah pegunungan Jepang kini tidak hanya dikenal lewat pemandangan alam dan onsen, tetapi juga lewat kuliner liar yang sarat makna budaya. Pengunjung datang dengan rasa penasaran, pulang dengan cerita yang tidak terlupakan.
Cermin Hubungan Manusia dan Alam
Kuliner daging beruang di Chichibu menjadi cermin kompleksnya hubungan manusia dan alam di era modern. Di balik hidangan yang tersaji, tersimpan cerita tentang perubahan lingkungan, tradisi lama, dan upaya manusia beradaptasi dengan kondisi baru.
Fenomena ini mengingatkan bahwa kuliner tidak selalu lahir dari tren, tetapi sering kali dari sejarah, kondisi alam, dan kebutuhan bertahan hidup. Di pegunungan Jepang, daging beruang bukan sekadar makanan, melainkan simbol keseimbangan yang rapuh antara manusia dan alam liar.

Cek Juga Artikel Dari Platform olahraga.online
