dapurkuliner.com Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan rasa yang luar biasa. Dari Sabang sampai Merauke, setiap daerah memiliki makanan khas dengan identitas kuat. Namun di balik keberagaman itu, muncul pertanyaan penting yang belum selesai dijawab secara nasional.
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan makanan Indonesia? Apakah semua masakan daerah otomatis masuk dalam kategori masakan Indonesia? Atau ada definisi tertentu yang harus disepakati bersama?
Pertanyaan ini terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar. Tanpa definisi yang jelas, Indonesia akan sulit membangun identitas kuliner yang kuat di mata dunia.
Inilah mengapa diskusi tentang definisi masakan Indonesia menjadi semakin relevan. Tidak hanya untuk akademisi, tetapi juga untuk pelaku industri, pemerintah, hingga masyarakat luas.
Masakan, Kuliner, dan Gastronomi: Apa Bedanya?
Dalam percakapan sehari-hari, istilah masakan, kuliner, dan gastronomi sering digunakan bergantian. Padahal maknanya tidak selalu sama.
Masakan biasanya merujuk pada makanan itu sendiri. Fokusnya ada pada resep, teknik memasak, dan hasil akhir di piring.
Kuliner lebih luas. Istilah ini mencakup pengalaman makan, tradisi, serta aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan makanan.
Sementara gastronomi memiliki cakupan yang lebih dalam lagi. Gastronomi membahas makanan dari sisi budaya, sejarah, filosofi, hingga relasi sosial.
Perbedaan istilah ini penting karena akan menentukan cara Indonesia memposisikan kekayaan makanannya.
Jika tidak ada kesepakatan istilah, maka strategi branding kuliner nasional juga bisa menjadi kabur.
Mengapa Definisi Nasional Itu Penting?
Definisi masakan Indonesia bukan hanya soal akademik. Ini soal identitas dan arah industri.
Saat sebuah negara ingin mempromosikan kuliner ke dunia internasional, ia harus punya kerangka yang jelas. Negara seperti Jepang, Korea, dan Thailand berhasil membangun citra makanan nasional karena mereka memiliki narasi yang kuat.
Indonesia punya potensi yang sangat besar. Namun keberagaman yang luas juga menjadi tantangan.
Tanpa definisi yang disepakati, makanan Indonesia bisa terlihat “terlalu luas” dan sulit dirangkum dalam satu identitas.
Karena itu, para pemangku kepentingan perlu menyusun kerangka bersama. Tujuannya adalah menemukan DNA merek atau brand DNA masakan Indonesia.
DNA Kuliner Indonesia dan Identitas Rasa Nusantara
Brand DNA adalah inti dari sebuah identitas. Dalam konteks kuliner, DNA ini mencakup karakter rasa, bahan utama, filosofi, hingga cara makan masyarakatnya.
Indonesia memiliki ciri khas yang sangat kuat, seperti penggunaan rempah-rempah, teknik memasak beragam, serta tradisi makan yang erat dengan budaya.
Namun pertanyaannya, apa elemen utama yang bisa mewakili masakan Indonesia secara nasional?
Apakah rendang? Apakah nasi goreng? Atau justru filosofi rempah sebagai dasar?
Diskusi seperti ini penting agar Indonesia tidak hanya dikenal karena banyak jenis makanan, tetapi juga karena punya identitas rasa yang khas dan konsisten.
Diskusi Terbuka Dewan Kuliner Indonesia
Kesadaran tentang pentingnya definisi ini mendorong Dewan Kuliner Indonesia menggelar diskusi terbuka bertajuk “Apa Itu Masakan Indonesia? Menyusun Kerangka Definisi Nasional”.
Forum ini menghadirkan berbagai perspektif. Sejarawan, antropolog, hingga pegiat gastronomi ikut terlibat.
Beberapa pembicara yang hadir antara lain sejarawan JJ Rizal, dosen antropologi Universitas Padjadjaran Hardian Eko Nurseto, serta Haidhar Wujanto dari Forum Bogor Kota Gastronomi.
Dari Dewan Kuliner Indonesia sendiri hadir Gupta Sitorus sebagai perwakilan.
Diskusi ini menjadi ruang penting untuk merumuskan definisi yang tidak hanya kuliner, tetapi juga budaya.
Kuliner sebagai Warisan Budaya dan Ekonomi
Masakan Indonesia bukan sekadar makanan. Ia adalah warisan budaya yang hidup. Setiap resep membawa cerita sejarah, migrasi, perdagangan, hingga tradisi lokal.
Kuliner juga punya nilai ekonomi besar. Industri makanan dan minuman menjadi salah satu sektor yang terus tumbuh.
Jika definisi masakan Indonesia jelas, maka promosi kuliner bisa lebih terarah. Produk UMKM bisa lebih mudah masuk pasar global. Pariwisata kuliner juga bisa lebih kuat.
Kuliner adalah jembatan antara budaya dan ekonomi. Karena itu, definisi nasional akan berdampak luas.
Tantangan Keberagaman dalam Satu Definisi
Indonesia memiliki ribuan makanan khas. Ini adalah kekuatan, tetapi juga tantangan.
Menyusun definisi nasional tidak berarti menghapus keberagaman. Justru tujuannya adalah menemukan benang merah yang menghubungkan semuanya.
Definisi masakan Indonesia harus mampu merangkul semua daerah. Ia harus inklusif, tetapi tetap punya identitas jelas.
Inilah tantangan utama: bagaimana menyatukan kekayaan lokal menjadi narasi nasional yang kuat.
Menuju Kerangka Kuliner Indonesia yang Lebih Tegas
Diskusi tentang definisi masakan Indonesia adalah langkah awal yang penting. Indonesia membutuhkan kerangka yang tegas agar kulinernya tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga di dunia internasional.
Masakan Indonesia punya potensi besar menjadi kekuatan global. Rempah, budaya makan, dan keberagaman rasa adalah aset yang luar biasa.
Namun aset itu perlu disusun dalam identitas yang jelas. Dengan definisi yang kuat, Indonesia bisa membangun brand kuliner nasional yang lebih solid.
Pertanyaan “Apa itu masakan Indonesia?” bukan hanya soal kata-kata, tetapi soal masa depan kuliner Nusantara.

Cek Juga Artikel Dari Platform hotviralnews.web.id
