Kekayaan kuliner Priangan Timur tidak sekadar berbicara tentang lezatnya cita rasa. Di balik setiap hidangan, tersimpan lapisan ingatan kolektif, tuntunan hidup, hingga makna spiritual yang diwariskan lintas generasi. Makanan bukan hanya urusan perut, melainkan juga bahasa budaya yang merekam perjalanan peradaban masyarakat Sunda di wilayah timur Tanah Pasundan.
Hal itu tampak jelas dalam sebuah perhelatan Tur Priangan Timur yang digelar di Gedung Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Di atas meja-meja sederhana, tersaji beragam pangan tradisional: gulampo berbahan ketan dan gula aren, hahampangan atau kudapan ringan, aneka umbi-umbian, rujak dari buah segar, hingga tutug oncom yang legendaris. Ragam rupa dan aroma itu seolah mengundang siapa pun untuk menelusuri kisah panjang di baliknya.
Makanan sebagai Ingatan Kolektif
Puluhan peserta tur tampak antusias mencicipi satu per satu hidangan. Mereka tidak hanya mencicipi rasa, tetapi juga menyerap cerita yang menyertainya. Setiap suapan menghadirkan sensasi berbeda—manis, gurih, pedas—yang sekaligus menjadi penanda relasi masyarakat Sunda dengan alam sekitarnya.
Dalam tradisi Sunda, makanan kerap lahir dari prinsip keselarasan. Bahan-bahan yang digunakan berasal dari apa yang tersedia di alam sekitar: padi, singkong, talas, buah-buahan, hingga rempah. Pola ini mencerminkan kearifan lokal yang menempatkan manusia sebagai bagian dari alam, bukan penguasa mutlaknya.
Kampung Naga dan Falsafah Kesederhanaan
Kekayaan kuliner Priangan Timur semakin terasa ketika mengunjungi wilayah adat seperti Kampung Naga di Kabupaten Tasikmalaya. Di kampung ini, beubeutian atau umbi-umbian disajikan bersama bandrek—minuman hangat dari jahe dan gula merah. Sajian tersebut bukan sekadar jamuan bagi tamu, melainkan simbol kesederhanaan dan kemandirian pangan.
Masyarakat Kampung Naga mempertahankan pola hidup yang selaras dengan alam. Mereka mengolah pangan tanpa berlebihan, menjaga ritme tanam dan panen, serta memaknai makanan sebagai anugerah. Di sinilah kuliner menjadi bagian dari laku spiritual: makan secukupnya, bersyukur seperlunya.
Jejak Sejarah dalam Rasa
Menurut Riadi Darwis, dosen Politeknik Pariwisata National Hotel Institute Bandung sekaligus pengamat gastronomi Sunda, kuliner di Tatar Sunda dapat dilacak sejak masa kerajaan. Ia menegaskan bahwa masyarakat Sunda merupakan salah satu suku bangsa dengan peradaban tua di Nusantara, dan jejaknya tercermin dalam sistem pangan.
Artefak peninggalan Kerajaan Salakanagara yang ditemukan di wilayah Banten, misalnya, menunjukkan bahwa sejak abad ke-2 hingga ke-4 Masehi, telah ada komunitas dengan ketahanan pangan yang baik. Prasasti tersebut merepresentasikan masyarakat yang mampu mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan—sebuah nilai yang hingga kini tercermin dalam kuliner Sunda.
Catatan lain datang dari Barbosa, penulis Portugis, yang dikutip dalam disertasi Husein Djajadiningrat pada awal abad ke-20. Dalam tulisannya disebutkan bahwa “negeri itu sangat kaya dengan macam-macam makanan”. Ungkapan tersebut menjadi bukti bahwa kekayaan kuliner Tanah Pasundan telah dikenal sejak lama oleh dunia luar.
Delapan Kategori Gastronomi Sunda
Selama lebih dari 35 tahun meneliti gastronomi Sunda, Riadi Darwis mengelompokkan makanan tradisional Sunda ke dalam delapan kategori utama. Pertama, makanan pokok seperti nasi, beras, dan umbi-umbian. Kedua, lauk-pauk yang beragam, mulai dari olahan ikan hingga protein nabati. Ketiga, rujak dengan aneka buah dan bumbu khas.
Kategori berikutnya adalah lalap dan sambal, yang mencerminkan kedekatan masyarakat Sunda dengan sayuran segar. Ada pula tektek—sirih, pinang, dan rempah—yang berkaitan dengan tradisi sosial. Manis-manisan seperti dodol dan gulampo menjadi penutup, sementara aneka minuman tradisional seperti teh, kopi, jamu, madu, dan bandrek melengkapi keseluruhan lanskap gastronomi Sunda.
Kuliner sebagai Tuntunan Hidup
Lebih dari sekadar konsumsi, kuliner Sunda mengandung tuntunan etis. Prinsip “ulah kaleuleuwihi” (jangan berlebihan) tercermin dalam porsi dan cara pengolahan makanan. Banyak hidangan dibuat sederhana, tanpa teknik rumit, namun kaya rasa dan makna.
Tutug oncom, misalnya, lahir dari kreativitas masyarakat memanfaatkan sisa kedelai fermentasi. Ia mengajarkan nilai keberlanjutan dan anti-pemborosan. Rujak buah mengajarkan keseimbangan rasa—asam, manis, pedas—yang merefleksikan keseimbangan hidup.
Tantangan dan Pelestarian
Di tengah arus modernisasi, kuliner Priangan Timur menghadapi tantangan serius. Masuknya makanan instan dan gaya hidup cepat kerap menggeser pangan tradisional. Generasi muda mengenal burger dan pizza, tetapi mulai asing dengan beubeutian atau hahampangan.
Namun, berbagai upaya pelestarian mulai digalakkan. Festival kuliner, tur gastronomi, hingga kajian akademik menjadi ruang untuk mengenalkan kembali pangan tradisional kepada publik luas. Kuliner tidak hanya diposisikan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga potensi ekonomi dan identitas budaya masa depan.
Penutup: Rasa sebagai Penjaga Identitas
Kekayaan kuliner Priangan Timur membuktikan bahwa makanan dapat menjadi penjaga identitas. Setiap rasa adalah arsip hidup, setiap resep adalah cerita yang diwariskan. Dari dapur sederhana hingga meja perhelatan budaya, kuliner Sunda terus bertutur tentang sejarah, filosofi, dan cara manusia memaknai hidup.
Lebih dari sekadar cita rasa, kuliner Priangan Timur adalah jembatan antara masa lalu dan masa kini—menghubungkan manusia dengan alam, sejarah, dan nilai-nilai yang membentuk jati diri Tatar Sunda.
Baca Juga : Jelajah Rasa Jogja: 7 Destinasi Kuliner Wajib Coba, dari Legendaris hingga Ramah di Kantong
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : beritabumi
