dapurkuliner.com Kota Makassar kembali semarak dengan digelarnya Festival Tjap Legende, salah satu ajang kuliner terbesar di Indonesia yang menampilkan cita rasa legendaris dari berbagai daerah. Festival ini digelar di Phinisi Point Mall dan menjadi magnet bagi pecinta kuliner tradisional yang ingin menikmati makanan legendaris dari penjuru Nusantara dalam satu tempat.
Gelaran ini diikuti oleh 30 tenant kuliner terkenal dari berbagai kota, membawa kekayaan rasa dan sejarah panjang dari setiap hidangan. Mulai dari makanan khas Yogyakarta hingga hidangan otentik dari Pontianak dan Banyuwangi, semua tersaji dengan keaslian cita rasa yang tetap dipertahankan sejak puluhan tahun lalu.
Menurut Casual Leasing Manager Phinisi Point Mall, Marcell, konsep festival ini sederhana namun kuat: menghadirkan makanan yang benar-benar “legendaris.” “Semua tenant yang kami hadirkan berasal dari brand kuliner yang sudah dikenal lama, bahkan ada yang berdiri sejak 1950-an,” ujarnya.
Hidangan Legendaris dari Berbagai Daerah
Bagi pengunjung, festival ini bukan sekadar tempat makan, melainkan perjalanan kuliner yang membawa mereka menelusuri sejarah rasa Indonesia. Beberapa kuliner yang paling menarik perhatian di antaranya adalah Apem Beras Bu Siti dari Pasar Ngasem Yogyakarta yang sudah eksis sejak 1954.
Kue apem yang lembut dengan aroma santan ini menjadi nostalgia bagi banyak pengunjung yang rindu cita rasa jajanan pasar tempo dulu.
Tak kalah populer, ada Tongseng Tengkleng Ahmad dari Solo yang berdiri sejak 1998. Sajian ini menggoda dengan kuah gurih rempah khas Jawa Tengah dan daging kambing empuk yang dimasak perlahan.
Sementara itu, pengunjung asal Kalimantan tentu tidak akan melewatkan Es Ce Hun Tiaw Bongko Alung dari Pontianak, yang sudah berdiri sejak 1954. Es ini terkenal dengan campuran cendol, bongko, dan gula merah yang segar dan manis alami.
Selain tiga kuliner legendaris tersebut, festival ini juga menghadirkan Pempek Palembang, Nasi Tempong Banyuwangi, Sate Madura, Rawon Surabaya, serta jajanan khas Betawi seperti kue rangi dan kerak telor. Setiap hidangan menggambarkan keanekaragaman kuliner Indonesia yang tetap hidup dari generasi ke generasi.
Antusiasme Pengunjung dan Nuansa Festival
Sejak hari pertama dibuka, festival ini langsung dipadati pengunjung dari berbagai kalangan. Mulai dari keluarga, pelajar, hingga wisatawan mancanegara terlihat menikmati suasana penuh aroma menggoda dari tiap stan kuliner.
Selain makanan, panitia juga menghadirkan berbagai hiburan seperti pertunjukan musik tradisional, workshop kuliner, dan kompetisi masak makanan daerah yang menambah semarak acara.
Marcell menyebutkan bahwa tujuan utama festival ini bukan hanya untuk menjual makanan, tetapi juga mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kuliner warisan Indonesia. “Setiap makanan punya cerita, dan cerita itu yang ingin kami hidupkan kembali lewat festival ini,” jelasnya.
Suasana festival dibuat seperti pasar tradisional dengan dekorasi yang memadukan unsur budaya lokal Makassar dan nuansa vintage. Ornamen bambu, kain batik, dan musik gamelan lembut mengiringi setiap langkah pengunjung. Tak sedikit yang datang bukan hanya untuk mencicipi, tetapi juga berswafoto karena desain tempat yang Instagramable.
Dampak Ekonomi dan Promosi Kuliner Lokal
Selain menghadirkan nostalgia rasa, Festival Tjap Legende juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan. Para pelaku UMKM kuliner yang berpartisipasi mengaku bahwa acara ini menjadi ajang penting untuk memperluas jaringan dan memperkenalkan produk mereka kepada khalayak luas.
Salah satu peserta, Rani, pemilik usaha jajanan pasar dari Makassar, mengatakan bahwa festival ini menjadi kesempatan emas. “Biasanya orang hanya tahu makanan Jawa atau Sumatera. Di sini, mereka bisa tahu juga ada banyak kuliner khas Sulawesi yang tidak kalah enak,” ujarnya dengan bangga.
Selain memperkenalkan kuliner daerah, acara ini juga mendorong wisata gastronomi di Makassar. Banyak wisatawan datang khusus untuk menikmati festival ini, sehingga berdampak positif bagi sektor pariwisata dan perhotelan.
Pemerintah daerah menyambut baik inisiatif ini karena sejalan dengan visi pengembangan pariwisata berbasis budaya dan kuliner. Festival seperti Tjap Legende dianggap mampu memperkuat identitas Indonesia sebagai negara dengan kekayaan kuliner yang luar biasa.
Pelestarian Kuliner Sebagai Warisan Budaya
Lebih dari sekadar pesta makanan, Tjap Legende juga memiliki misi pelestarian budaya. Banyak makanan legendaris yang kini terancam punah karena tidak adanya regenerasi pelaku usaha.
Melalui festival ini, generasi muda diperkenalkan kembali pada makanan-makanan yang dulunya menjadi favorit masyarakat di berbagai daerah.
Setiap stan juga dilengkapi dengan informasi singkat mengenai asal usul kuliner, tahun berdiri, dan kisah unik di balik resep yang digunakan. Misalnya, Apem Bu Siti yang dulunya dijual di emperan pasar kini menjadi ikon kuliner tradisional Yogyakarta yang dikenal secara nasional.
Dengan konsep yang edukatif dan menghibur, festival ini berhasil memadukan nostalgia dengan semangat modernitas. Tidak hanya menjadi ajang kuliner, Tjap Legende juga menjadi pengingat bahwa makanan adalah bagian penting dari sejarah bangsa.
Harapan untuk Gelaran Berikutnya
Keberhasilan festival ini di Makassar diharapkan bisa menjadi contoh bagi kota-kota lain di Indonesia untuk menggelar acara serupa. Marcell menyebut bahwa penyelenggara sudah berencana membawa Tjap Legende ke kota lain seperti Surabaya, Medan, dan Bandung.
Ia berharap acara ini dapat menjadi wadah bagi para pelaku kuliner tradisional untuk terus berkembang dan mendapat dukungan dari masyarakat. “Semakin banyak yang peduli dengan kuliner lokal, semakin kuat pula identitas bangsa kita,” tutup Marcell.

Cek Juga Artikel Dari Platform radarjawa.web.id
